Apa yang terlintas saat mendengar nama Leonardo da Vinci?
Kebanyakan dari kita akan langsung berpikir tentang sebuah karya yang sangat populer, lukisan Mona Lisa, sebuah karya seni yang menjadi simbol keabadian namanya sekaligus bayangan dari ratusan ide lain yang tertinggal dalam sketsa dan catatan.
Di tengah gemuruh era Renaisans, Leonardo da Vinci muncul sebagai sosok yang melampaui zamannya. Ia membayangkan mesin terbang saat manusia belum mampu meninggalkan tanah, merancang kendaraan tempur jauh sebelum perang modern, dan membedah tubuh manusia demi memahami rahasia kehidupan. Dari seni hingga sains, dari anatomi hingga teknik, hampir tak ada bidang yang luput dari kejeniusannya. Namun, semua itu terhambat oleh keterbatasan teknologi dan dorongan perfeksionisme yang tak kenal kompromi.
Di samping berkisah tentang jenius yang serba bisa, buku ini juga sebuah potret tentang ambisi tanpa batas, kegelisahan intelektual, dan harga yang harus dibayar oleh pikiran yang selalu melangkah lebih cepat dari zamannya. Selain itu, sebuah refleksi mendalam patut kita pertanyakan: benarkah kesempurnaan adalah puncak dari kejeniusan atau justru penghalang terbesar yang membuat karya tak pernah benar-benar selesai?
“Detail menciptakan kesempurnaan dan kesempurnaan bukanlah detail.”
—Leonardo da Vinci